Kenalin gue “Kristinar” anak
rantauan dari Sulawesi Selatan, datang ke Jogja untuk menimba ilmu dan menambah
pengalaman (so’nya minta dicekik nih bocah).
Gue anak ke empat dari empat bersaudara kalo di tempat asal gue sih
orang-orang menyebutnya ana’ malolo /
pakkacappureng dibaca anak bungsu kalo di indonesiaiin. Gue punya abang
satu yang tuanya minta dimudain kalo dibandingin sama gue, ya iyalah dia tua
banget saking tuanya gue ngak bisa ngitung perbedaan usia gue sama dia. Kalo
gue punya abang satu berarti gue punya kakak perempuan dua doong. Perbedaan
usianya mereka dengan gue sih ngak jauh-jauh amat, ngak seperti abang gue itu. Well enough for introdution them, i thought
isn’t important J
Back
to the topic. Jadi
ceritanya pertama kali gue jatuh cinta dengan Jogja itu saat gue duduk di
bangku kelas 2 SMA semester pertama (kalo ngak salah inget sih). Gue pernah
ngelihat photo-photo kakak kelas yang berpose alay saat tour de’ jogja
dan langsung jatuh cinta. Saat itulah gue berjanji dengan diri gue sendiri “SOMEDAY I’LL BE STUDYING IN JOGJA “ . Ngak
tau kenapa, mungkin gue memang berjodoh kali dengan kota yang disebut-sebut
sebagai kota pelajar itu. Di awali dengan kedatangan seorang alumni ke sekolah
gue yang juga ternyata kakak dari temen gue, tujuannya dia cuman untuk meminta
bantuan dari anak-anak OSIS, untuk mengadakan reuni alumni. Tiba-tiba anak-anak
pada heboh tuh, entah artis yang dateng atau pejabat gue juga ngak ngerti
(biasalah anak SMA yang masih labil), pada heboh kalo ada orang baru.
Tuhan memang selalu
memberikan kita jalan untuk meraih impian-impian kita, dan terkadang sedikit
jalan itu melalui tangan-tangan orang lain. Gue bersyukur dengan berkenalan
dengan Kak Rahim gue ada sedikit gambaran cerita, tentang kehidupan masyarakat
jawa, biaya hidup mahasiswa, tempat-tempat pariwisata, dan sekilas gambarang
tentang universitas-universtitas yang ada di sini. Setidaknya gue sedikit ada
gambaran untuk memutuskan melanjutkan kuliah di Jogja setelah Ujian Akhir
Nasional selesai waktu itu.
Impian untuk melanjutkan
kuliah di Jogja memang udah di depan mata. Akhir sekolah, gue mulai disibukkan
dengan berbagai pendaftaran. Padahal waktu itu belum ada tuh pengumuman
kelulusan, dan dengan sangat percaya diri semua formulir gue kirim entah itu on line atau off line semua gue isi sesuai dengan minat dan bakat. Gue memang
tidak ada gambaran untuk melanjutkan kuliah di Makassar, sama sekali ngak ada
di mimpi gue, jangankan dimimpi di bayangan gue ajah tuh sama sekali ngak ada,
dan alhamdulillah takdir gue memang di sini dan Tuhan mengijinkan, meskipun
orangtua gue agak susah memberikan izin kepada anak bungsunya.
Ada pertanya bodoh yang
selalu di alamatkan ke gue, “kenapa tidak kuliah di Makassar, Jogja itukan jauh
banget”. Damn !! Sumpah gue bener-bener benci pertanyaan sejenis ini. Tapi
karena gue masih sedikit menjaga sikap, gue jawab ajah seadanya “Makassar itu
tidak senyaman Jogja”. Itu merupakan jawaban singkat yang sering gue lontarkan
keorang-orang yang tidak ada bosannya menanyakan hal yang sama kepada gue. Entah
itu kedua orangtua gue, kakak-kakak gue, tante, sepupu, temen-temen bahkan para
tetangga.
Actually,
there’re many reason why i choose Jogja. Pertama karena gue masih mencintai diri gue
yang sederhana dan apa adanya, gue tipikal orang yang tidak suka ikut-ikutan
dalam segala hal (apapun itu), dan gue masih sangat-sangat labil, secarakan
masih 18 tahun waktu itu, masih tenenger banget
boo. Ngak tau kenapa yaa, gue
membayangkan diri gue kalau kuliah dan tinggal di Makassar tanpa pengawassan
dari kedua orang tua (meskipun sebenarnya itu ngak terlalu berpengaruh sih buat
gue), dua bulan saja mungkin gue bakalan berubah jadi wanita jadi-jadian (maksudnya
tidak jadi diri sendiri) secarakan Makassar itu pergaulannya keras. Itu merupakan
alasan pertama mengapa gue ngak mau kuliah di sana, karena gue mengerti bahwa
lingkungan itu membentuk pola hidup dan kepribadian kita secara signifikan (cieelah
bahasa psikolog banget) J
Selain pertimbangan lingkungan
di sana yang menurut analisis gue pribadi kurang baik untuk tumbuh kembang gue
(hahahaha sumpah ini alasannya ngak banget). Baik itu dari segi pergaulan, lingkungan
secara geografis, biaya hidup yang terlalu mahal dan masyarakat yang sebagian
besar hedonis dan melihat juga perkembangan aktual bahwa Makassar itu sudah
termasuk kota metropolitan dengan tindak kriminalitas yang tinggi. Gue udah
mutusin ngak mau lanjutin kuliah di Makassar, tinggal di sana ataupun kerja di
sana (sadis banget sih gue -,-). Bukannya gue benci dengan tanah kelahiran gue,
di sini gue belajar dan menerapkan banyak hal. Jika diumpamakan kita berada
dalam sebuah labirin, tentu kita tidak hanya dikotak itu saja untuk bisa
keluar, kita harus berpindah dari kotak satu ke kotak lainnya yang menurut kita
merupakan jalan keluar. Begitulah gue mengambil perumpamaan labirin dan hidup
gue.






0 komentar:
Posting Komentar