znakakjjdjncmckckckmcnvn
MK
Label:
Journey
Di
era globalisasi ini, perkembangan ekonomi semakin meningkat dengan berbagai sistem
yang semakin global. segala sistem tersebut semakin mempermudah pelaku ekonomi
untuk menggerakkan roda ekonomi dunia. Karena aspek ekonomi adalah hal yang
sangat penting pada suatu negara maka Perputaran ekonomi yang merata sangat
diperlukan untuk menstabilkan perkembangan negara maupun dunia.
It's Beginer
Label:
Diary
Sepertinya
akhir-akhir ini gue mengalami berbagai gangguan seperti mood disorder, insomnia, dan
eat disorder (tapi bukan bulimia atau anoreksia yaa, meskipun gue kurus
kerempeng gini, emang dari sononya kok). Apa lagi semalam, gue bener-bener
mengalami kesulitan tidur padahal biasanya gue udah berada di alam mimpi tuh
jam 21.00 atau ngak 22.00, sebenarnya sih jawaban dari itu semua udah gue tau
“banyak fikiran”. Gue mikirin kiriman dari nyokab yang tak kunjung tiba, gue
mikirin kuliah gue yang berantakan, gue mikirin temen-temen gue nanti kalo udah
masuk pergantian semester yg bisa saja more
than suck, gue mikirin kesehatan gue yang bisa saja terganggu karena males
makan, gue mikirin suprise organizer buat pacar gue pada tanggal 15 Februari
2014 nanti. Oh my God it’s really
complicated.
Semalem gue banyak
fikran lagi karena pacar gue hari ini ada tes di PT. Nasmoco Group cabang Yogya
di daerah Ring Road Selatan. Bukan gue yang mau test guenya yang rempong, emang
kayak gitu tuh kelakuan gue akhir-akhir ini. Expert dan perhatian banget sama
pacar, padahal dulu gue cuek dan nyantai banget entah setan model kayak gimana
yang ngerasukin tubuh gue ini. Kemarin tanggal 4 Februari 2014 dia kesana
memenuhi panggilan untuk test psikologi, cuman karena gue belum ketemu sma dia,
jadi gue belum bisa jelasin tesnya itu modelnya yang seperti apa. Dan hari ini
dia ada test wawancara, itu artinya dia lolos di psikotest dong yaa (ya
jelaslah).
Udah menjelang
midnight dia baru ngomong tuh kalo dia ada test wawancara lagi besok pagi jam
08.30. Udah deh gue langsung keblingeran, pusing dan takut. Tapi gue
bercandaiin aja “kamu mau aku ajarin caranya wawancara yang bener dengan Human
Resourch Development ngak” secara guekan juga calon HRD (hahhaha). Sebenernya
sih ngak mau ngajarin dia banyak hal tentang wawancara kerja yang gue tau,
soalnyakan wawancaranya udah besok pagi takutnya kalo gue jelasin kedia panjang
lebar dia malah panik, bingung, deprsi, banyak fikiran dan mungkin saja terkena
“Heart Attack” (jangan !! dia masih 22 tahun, dan dia tidak memiliki riwayat
penyakit itu di keluarganya )
Sebelum gue
ngomong panjang lebar soal tahap-tahap wawancara, jenis wawancara, apa yang
biasa ditanyakan oleh HRD, dan sebagainya. Gue langsung buru-buru ngasih tau
pakaian yang harus dia kenakan besok i
think it is the most the important thing in interview, bayangan gue he must have a good appearance. Selain
performa kita di depan pewawancara yang harus menampilkan hal terbaik tentang
kita, kita juga harus memperhatikan penampilan saat interview dan memberikan
kesan pertama yang baik kepada pewawancara.
Kalo mau jujur
sih, gue seneng banget soalnya ini adalah test pertama dia setelah selesai
kuliah dan tinggal nunggu diadain pelepasan acara sakral dari Universita (di
baca wisuda yaa). Mati-matian semalem gue semangatin dan tenangin dia sebelum
berangkat tadi pagi. Alih-alih udah mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari
strika baju dan celana yang super rapi, pel sepatu supaya bersih dan kinclong,
ngengtin jangan pake kaos kaki yang sependek mata kaki, sibuk nyari dasi yang
pas buat stelan atasannya tapi ngak ada yang cocok dan emang ngak punya (hahha).
Hasil yang gue
harapin ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Well, it’s oke it doesn’t matter. Mungkin ini memang bukan rezeki
dia, dan gue yakin Allah sudah
merencanakan sesuatu yang lebih hebat untuknya. Tapi gue ngak abis mikir, panggilannya
cuman buat interview doang, eh tapi malah ada test pengetahuan lagi, dan yang
lebih gilanya dia ngeblank saat ngerjaiin
semua soalnya dan dia ngak pernah belajar (warning !! buat yang mau datar kerja
di perusahaan pasti da psikotest, tes pengetahuan baik itu umum/khusus, dan
wawancara, makanya belajar yang bener).
Sedih ya, gue sedih (tapi ngak usah ditampakin
juga *no over acting in front of him).
Ini baru awal, setiap orang pasti pernah berada di fase ini. Ambil hikmahnya
dan percaya bahwa Allah SWT punya rencanya yang lebih baik dan indah. Kita
harus tetap berada dijalannya. Hal yang harus kita pegang teguh adalah
keyakinan, setelah itu berusaha semaksimal mungkin dan berdoa. Apuapun hasilnya
insya Allah itulah yang terbaik untuk kita. Never
give up to get your dreams before you died.
From Wajo to Jogja
Label:
Diary
Kenalin gue “Kristinar” anak
rantauan dari Sulawesi Selatan, datang ke Jogja untuk menimba ilmu dan menambah
pengalaman (so’nya minta dicekik nih bocah).
Gue anak ke empat dari empat bersaudara kalo di tempat asal gue sih
orang-orang menyebutnya ana’ malolo /
pakkacappureng dibaca anak bungsu kalo di indonesiaiin. Gue punya abang
satu yang tuanya minta dimudain kalo dibandingin sama gue, ya iyalah dia tua
banget saking tuanya gue ngak bisa ngitung perbedaan usia gue sama dia. Kalo
gue punya abang satu berarti gue punya kakak perempuan dua doong. Perbedaan
usianya mereka dengan gue sih ngak jauh-jauh amat, ngak seperti abang gue itu. Well enough for introdution them, i thought
isn’t important J
Back
to the topic. Jadi
ceritanya pertama kali gue jatuh cinta dengan Jogja itu saat gue duduk di
bangku kelas 2 SMA semester pertama (kalo ngak salah inget sih). Gue pernah
ngelihat photo-photo kakak kelas yang berpose alay saat tour de’ jogja
dan langsung jatuh cinta. Saat itulah gue berjanji dengan diri gue sendiri “SOMEDAY I’LL BE STUDYING IN JOGJA “ . Ngak
tau kenapa, mungkin gue memang berjodoh kali dengan kota yang disebut-sebut
sebagai kota pelajar itu. Di awali dengan kedatangan seorang alumni ke sekolah
gue yang juga ternyata kakak dari temen gue, tujuannya dia cuman untuk meminta
bantuan dari anak-anak OSIS, untuk mengadakan reuni alumni. Tiba-tiba anak-anak
pada heboh tuh, entah artis yang dateng atau pejabat gue juga ngak ngerti
(biasalah anak SMA yang masih labil), pada heboh kalo ada orang baru.
Tuhan memang selalu
memberikan kita jalan untuk meraih impian-impian kita, dan terkadang sedikit
jalan itu melalui tangan-tangan orang lain. Gue bersyukur dengan berkenalan
dengan Kak Rahim gue ada sedikit gambaran cerita, tentang kehidupan masyarakat
jawa, biaya hidup mahasiswa, tempat-tempat pariwisata, dan sekilas gambarang
tentang universitas-universtitas yang ada di sini. Setidaknya gue sedikit ada
gambaran untuk memutuskan melanjutkan kuliah di Jogja setelah Ujian Akhir
Nasional selesai waktu itu.
Impian untuk melanjutkan
kuliah di Jogja memang udah di depan mata. Akhir sekolah, gue mulai disibukkan
dengan berbagai pendaftaran. Padahal waktu itu belum ada tuh pengumuman
kelulusan, dan dengan sangat percaya diri semua formulir gue kirim entah itu on line atau off line semua gue isi sesuai dengan minat dan bakat. Gue memang
tidak ada gambaran untuk melanjutkan kuliah di Makassar, sama sekali ngak ada
di mimpi gue, jangankan dimimpi di bayangan gue ajah tuh sama sekali ngak ada,
dan alhamdulillah takdir gue memang di sini dan Tuhan mengijinkan, meskipun
orangtua gue agak susah memberikan izin kepada anak bungsunya.
Ada pertanya bodoh yang
selalu di alamatkan ke gue, “kenapa tidak kuliah di Makassar, Jogja itukan jauh
banget”. Damn !! Sumpah gue bener-bener benci pertanyaan sejenis ini. Tapi
karena gue masih sedikit menjaga sikap, gue jawab ajah seadanya “Makassar itu
tidak senyaman Jogja”. Itu merupakan jawaban singkat yang sering gue lontarkan
keorang-orang yang tidak ada bosannya menanyakan hal yang sama kepada gue. Entah
itu kedua orangtua gue, kakak-kakak gue, tante, sepupu, temen-temen bahkan para
tetangga.
Actually,
there’re many reason why i choose Jogja. Pertama karena gue masih mencintai diri gue
yang sederhana dan apa adanya, gue tipikal orang yang tidak suka ikut-ikutan
dalam segala hal (apapun itu), dan gue masih sangat-sangat labil, secarakan
masih 18 tahun waktu itu, masih tenenger banget
boo. Ngak tau kenapa yaa, gue
membayangkan diri gue kalau kuliah dan tinggal di Makassar tanpa pengawassan
dari kedua orang tua (meskipun sebenarnya itu ngak terlalu berpengaruh sih buat
gue), dua bulan saja mungkin gue bakalan berubah jadi wanita jadi-jadian (maksudnya
tidak jadi diri sendiri) secarakan Makassar itu pergaulannya keras. Itu merupakan
alasan pertama mengapa gue ngak mau kuliah di sana, karena gue mengerti bahwa
lingkungan itu membentuk pola hidup dan kepribadian kita secara signifikan (cieelah
bahasa psikolog banget) J
Selain pertimbangan lingkungan
di sana yang menurut analisis gue pribadi kurang baik untuk tumbuh kembang gue
(hahahaha sumpah ini alasannya ngak banget). Baik itu dari segi pergaulan, lingkungan
secara geografis, biaya hidup yang terlalu mahal dan masyarakat yang sebagian
besar hedonis dan melihat juga perkembangan aktual bahwa Makassar itu sudah
termasuk kota metropolitan dengan tindak kriminalitas yang tinggi. Gue udah
mutusin ngak mau lanjutin kuliah di Makassar, tinggal di sana ataupun kerja di
sana (sadis banget sih gue -,-). Bukannya gue benci dengan tanah kelahiran gue,
di sini gue belajar dan menerapkan banyak hal. Jika diumpamakan kita berada
dalam sebuah labirin, tentu kita tidak hanya dikotak itu saja untuk bisa
keluar, kita harus berpindah dari kotak satu ke kotak lainnya yang menurut kita
merupakan jalan keluar. Begitulah gue mengambil perumpamaan labirin dan hidup
gue.
Langganan:
Postingan (Atom)





