Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Terapi

znakakjjdjncmckckckmcnvn

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MK

Di era globalisasi ini, perkembangan ekonomi semakin meningkat dengan berbagai sistem yang semakin global. segala sistem tersebut semakin mempermudah pelaku ekonomi untuk menggerakkan roda ekonomi dunia. Karena aspek ekonomi adalah hal yang sangat penting pada suatu negara maka Perputaran ekonomi yang merata sangat diperlukan untuk menstabilkan perkembangan negara maupun dunia. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

It's Beginer


Sepertinya akhir-akhir ini gue mengalami berbagai gangguan seperti mood disorder, insomnia, dan eat disorder (tapi bukan bulimia atau anoreksia yaa, meskipun gue kurus kerempeng gini, emang dari sononya kok). Apa lagi semalam, gue bener-bener mengalami kesulitan tidur padahal biasanya gue udah berada di alam mimpi tuh jam 21.00 atau ngak 22.00, sebenarnya sih jawaban dari itu semua udah gue tau “banyak fikiran”. Gue mikirin kiriman dari nyokab yang tak kunjung tiba, gue mikirin kuliah gue yang berantakan, gue mikirin temen-temen gue nanti kalo udah masuk pergantian semester yg bisa saja more than suck, gue mikirin kesehatan gue yang bisa saja terganggu karena males makan, gue mikirin suprise organizer buat pacar gue pada tanggal 15 Februari 2014 nanti. Oh my God it’s really complicated.
Semalem gue banyak fikran lagi karena pacar gue hari ini ada tes di PT. Nasmoco Group cabang Yogya di daerah Ring Road Selatan. Bukan gue yang mau test guenya yang rempong, emang kayak gitu tuh kelakuan gue akhir-akhir ini. Expert dan perhatian banget sama pacar, padahal dulu gue cuek dan nyantai banget entah setan model kayak gimana yang ngerasukin tubuh gue ini. Kemarin tanggal 4 Februari 2014 dia kesana memenuhi panggilan untuk test psikologi, cuman karena gue belum ketemu sma dia, jadi gue belum bisa jelasin tesnya itu modelnya yang seperti apa. Dan hari ini dia ada test wawancara, itu artinya dia lolos di psikotest dong yaa (ya jelaslah).
Udah menjelang midnight dia baru ngomong tuh kalo dia ada test wawancara lagi besok pagi jam 08.30. Udah deh gue langsung keblingeran, pusing dan takut. Tapi gue bercandaiin aja “kamu mau aku ajarin caranya wawancara yang bener dengan Human Resourch Development ngak” secara guekan juga calon HRD (hahhaha). Sebenernya sih ngak mau ngajarin dia banyak hal tentang wawancara kerja yang gue tau, soalnyakan wawancaranya udah besok pagi takutnya kalo gue jelasin kedia panjang lebar dia malah panik, bingung, deprsi, banyak fikiran dan mungkin saja terkena “Heart Attack” (jangan !! dia masih 22 tahun, dan dia tidak memiliki riwayat penyakit itu di keluarganya )
Sebelum gue ngomong panjang lebar soal tahap-tahap wawancara, jenis wawancara, apa yang biasa ditanyakan oleh HRD, dan sebagainya. Gue langsung buru-buru ngasih tau pakaian yang harus dia kenakan besok i think it is the most the important thing in interview, bayangan gue he must have a good appearance. Selain performa kita di depan pewawancara yang harus menampilkan hal terbaik tentang kita, kita juga harus memperhatikan penampilan saat interview dan memberikan kesan pertama yang baik kepada pewawancara.
Kalo mau jujur sih, gue seneng banget soalnya ini adalah test pertama dia setelah selesai kuliah dan tinggal nunggu diadain pelepasan acara sakral dari Universita (di baca wisuda yaa). Mati-matian semalem gue semangatin dan tenangin dia sebelum berangkat tadi pagi. Alih-alih udah mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari strika baju dan celana yang super rapi, pel sepatu supaya bersih dan kinclong, ngengtin jangan pake kaos kaki yang sependek mata kaki, sibuk nyari dasi yang pas buat stelan atasannya tapi ngak ada yang cocok dan emang ngak punya (hahha).
Hasil yang gue harapin ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Well, it’s oke it doesn’t matter. Mungkin ini memang bukan rezeki dia, dan  gue yakin Allah sudah merencanakan sesuatu yang lebih hebat untuknya. Tapi gue ngak abis mikir, panggilannya cuman buat interview doang, eh tapi malah ada test pengetahuan lagi, dan yang lebih gilanya dia ngeblank saat ngerjaiin semua soalnya dan dia ngak pernah belajar (warning !! buat yang mau datar kerja di perusahaan pasti da psikotest, tes pengetahuan baik itu umum/khusus, dan wawancara, makanya belajar yang bener).

 Sedih ya, gue sedih (tapi ngak usah ditampakin juga *no over acting in front of him). Ini baru awal, setiap orang pasti pernah berada di fase ini. Ambil hikmahnya dan percaya bahwa Allah SWT punya rencanya yang lebih baik dan indah. Kita harus tetap berada dijalannya. Hal yang harus kita pegang teguh adalah keyakinan, setelah itu berusaha semaksimal mungkin dan berdoa. Apuapun hasilnya insya Allah itulah yang terbaik untuk kita. Never give up to get your dreams before you died.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

From Wajo to Jogja


Kenalin gue “Kristinar” anak rantauan dari Sulawesi Selatan, datang ke Jogja untuk menimba ilmu dan menambah pengalaman (so’nya minta dicekik nih bocah).  Gue anak ke empat dari empat bersaudara kalo di tempat asal gue sih orang-orang menyebutnya ana’ malolo / pakkacappureng dibaca anak bungsu kalo di indonesiaiin. Gue punya abang satu yang tuanya minta dimudain kalo dibandingin sama gue, ya iyalah dia tua banget saking tuanya gue ngak bisa ngitung perbedaan usia gue sama dia. Kalo gue punya abang satu berarti gue punya kakak perempuan dua doong. Perbedaan usianya mereka dengan gue sih ngak jauh-jauh amat, ngak seperti abang gue itu. Well enough for introdution them, i thought isn’t important J
Back to the topic. Jadi ceritanya pertama kali gue jatuh cinta dengan Jogja itu saat gue duduk di bangku kelas 2 SMA semester pertama (kalo ngak salah inget sih). Gue pernah ngelihat photo-photo kakak kelas yang berpose alay saat tour de’ jogja dan langsung jatuh cinta. Saat itulah gue berjanji dengan diri gue sendiri “SOMEDAY I’LL BE STUDYING IN JOGJA “ . Ngak tau kenapa, mungkin gue memang berjodoh kali dengan kota yang disebut-sebut sebagai kota pelajar itu. Di awali dengan kedatangan seorang alumni ke sekolah gue yang juga ternyata kakak dari temen gue, tujuannya dia cuman untuk meminta bantuan dari anak-anak OSIS, untuk mengadakan reuni alumni. Tiba-tiba anak-anak pada heboh tuh, entah artis yang dateng atau pejabat gue juga ngak ngerti (biasalah anak SMA yang masih labil), pada heboh kalo ada orang baru.
Tuhan memang selalu memberikan kita jalan untuk meraih impian-impian kita, dan terkadang sedikit jalan itu melalui tangan-tangan orang lain. Gue bersyukur dengan berkenalan dengan Kak Rahim gue ada sedikit gambaran cerita, tentang kehidupan masyarakat jawa, biaya hidup mahasiswa, tempat-tempat pariwisata, dan sekilas gambarang tentang universitas-universtitas yang ada di sini. Setidaknya gue sedikit ada gambaran untuk memutuskan melanjutkan kuliah di Jogja setelah Ujian Akhir Nasional selesai waktu itu.
Impian untuk melanjutkan kuliah di Jogja memang udah di depan mata. Akhir sekolah, gue mulai disibukkan dengan berbagai pendaftaran. Padahal waktu itu belum ada tuh pengumuman kelulusan, dan dengan sangat percaya diri semua formulir gue kirim entah itu on line atau off line semua gue isi sesuai dengan minat dan bakat. Gue memang tidak ada gambaran untuk melanjutkan kuliah di Makassar, sama sekali ngak ada di mimpi gue, jangankan dimimpi di bayangan gue ajah tuh sama sekali ngak ada, dan alhamdulillah takdir gue memang di sini dan Tuhan mengijinkan, meskipun orangtua gue agak susah memberikan izin kepada anak bungsunya.
Ada pertanya bodoh yang selalu di alamatkan ke gue, “kenapa tidak kuliah di Makassar, Jogja itukan jauh banget”. Damn !! Sumpah gue bener-bener benci pertanyaan sejenis ini. Tapi karena gue masih sedikit menjaga sikap, gue jawab ajah seadanya “Makassar itu tidak senyaman Jogja”. Itu merupakan jawaban singkat yang sering gue lontarkan keorang-orang yang tidak ada bosannya menanyakan hal yang sama kepada gue. Entah itu kedua orangtua gue, kakak-kakak gue, tante, sepupu, temen-temen bahkan para tetangga.
Actually, there’re many reason why i choose Jogja. Pertama karena gue masih mencintai diri gue yang sederhana dan apa adanya, gue tipikal orang yang tidak suka ikut-ikutan dalam segala hal (apapun itu), dan gue masih sangat-sangat labil, secarakan masih 18 tahun waktu itu, masih tenenger banget boo. Ngak tau kenapa yaa, gue membayangkan diri gue kalau kuliah dan tinggal di Makassar tanpa pengawassan dari kedua orang tua (meskipun sebenarnya itu ngak terlalu berpengaruh sih buat gue), dua bulan saja mungkin gue bakalan berubah jadi wanita jadi-jadian (maksudnya tidak jadi diri sendiri) secarakan Makassar itu pergaulannya keras. Itu merupakan alasan pertama mengapa gue ngak mau kuliah di sana, karena gue mengerti bahwa lingkungan itu membentuk pola hidup dan kepribadian kita secara signifikan (cieelah bahasa psikolog banget) J

Selain pertimbangan lingkungan di sana yang menurut analisis gue pribadi kurang baik untuk tumbuh kembang gue (hahahaha sumpah ini alasannya ngak banget). Baik itu dari segi pergaulan, lingkungan secara geografis, biaya hidup yang terlalu mahal dan masyarakat yang sebagian besar hedonis dan melihat juga perkembangan aktual bahwa Makassar itu sudah termasuk kota metropolitan dengan tindak kriminalitas yang tinggi. Gue udah mutusin ngak mau lanjutin kuliah di Makassar, tinggal di sana ataupun kerja di sana (sadis banget sih gue -,-). Bukannya gue benci dengan tanah kelahiran gue, di sini gue belajar dan menerapkan banyak hal. Jika diumpamakan kita berada dalam sebuah labirin, tentu kita tidak hanya dikotak itu saja untuk bisa keluar, kita harus berpindah dari kotak satu ke kotak lainnya yang menurut kita merupakan jalan keluar. Begitulah gue mengambil perumpamaan labirin dan hidup gue.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS